Saturday, November 30, 2013

Foto Prewedding (Part 3)

Postingan kali ini membahas pengalaman saya dan cami dalam sesi foto prewedding yang dipenuhi drama, keringat, dan air (untungnya hujan, bukan air mata). Akibat satu dan lain hal, lokasi foto prewed baru fixed ditentukan sehari sebelum sesi pemotretan, itu juga sudah dengan usaha menelepon kesana-sini karena rencana sebelumnya berfoto di perpustakaan gagal.

Jadilah pada hari yang telah dijanjikan, saya dan cami janjian bertemu di salah satu kedai kopi di daerah Kemang. (Clue: kedai kopi ini juga punya cabang lainnya di daerah Senopati). Kami dapat ijin berfoto dari pukul 07.00 sampai pukul 10.00, tapi karena harus mempersiapkan make up dan kostum baru siap berfoto dimulai pukul 07.30. Berhubung persiapan kurang matang, saya tidak membawa high heels dan hanya menggunakan wedges. Jadinya kurang bagus sih, jadi wahai para wanita walaupun kalian tidak suka memakai high heels tidak ada salah menyiapkan sepasang-dua pasang jika ingin melakukan foto prewed.

Ohya, tema di lokasi pertama ini adalah classic vintage, tapi jadinya malah seperti foto formal saja. Fotografer yang menangani kami, mas Ali, sebenarnya jago sekali mengambil gambar dan mengarahkan, tapi berhubung saya kurang bisa bergaya jadi yaaa banyak yang jadinya kurang maksimal. Sekitar pukul 10.00 lewat sesi foto selesai. Untuk foto di kedai kopi ini charge yang dikenakan adalah 500ribu rupiah dan bisa berfoto di setiap sudut ruangan yang diinginkan.

Lokasi kedua, dari Kemang menuju mall Kota Kasablanka, untuk berfoto di Nannys Pavillon. Jalanan dari Kemang ke Kokas ternyata macet berat, kami baru tiba di sana sekitar pukul 11 lewat, padahal janjian dengan Nannys untuk datang jam 10. Tadinya kami takut karena mendekati jam makan siang artinya Nannys akan ramai dan susah berfoto di sana. Tapi berhubung ternyata yang datang makan siang belum terlalu banyak, sesi foto tetap diadakan. Nannys memang kooperatif sekali dalam urusan foto prewed, dan tempatnya juga bagus untuk foto-foto jadi lokasi ini merupakan lokasi favorit saya selama menjalani foto prewed. Sesuai kesepakatan, kami melakukan minimal order 500ribu dan ini dimanfaatkan sekaligus untuk makan siang saya dan cami, mas Ali, asisten fotografer, dan make up artist kami yang mungil dan cantik.

Selesai foto di Nannys sekitar jam 2, kami kemudian melanjutkan perjalanan ke lokasi ketiga, Bukit Juanda di Depok. Tadinya ingin foto outdoor bergaya piknik dengan ilalang di sini, namun rencana tinggal rencana. Hujan turun dengan derasnya dan tidak mau berhenti sampai sore hari. Sedikit memaksakan diri, kami tetap berfoto dengan latar belakang percikan air hujan, cukuplah dapat 1-2 foto yang lumayan bagus.

Setelah itu, sambil menunggu malam hari tiba, kami mampir ke Roti Bakar Edy di Margonda Depok sekaligus untuk ganti kostum dan touch-up make-up. Setelah hari gelap, kami melakukan sesi foto keempat alias terakhir di pinggir jalan dengan latar belakang lampu jalanan dan kendaraan di seputar Depok. Untunglah hujan sudah reda. Walaupun badan sedikit lelah, kami masih semangat berfoto dan hasil fotonya sesuai dengan yang diharapkan, cantik sekali berfoto di malam hari dengan latar belakan kerlap kerlip cahaya.

Bagaimana hasil fotonya secara keseluruhan? Setelah diedit dan hasilnya diberikan ke saya, bagus juga jadinya. Belum semua hasil foto saya dapatkan tapi yang sudah saya lihat sesuai harapan. Terima kasih pada mas Ali, mas Angga, mas Boy, Riffa dan sepupunya atas kerja keras kalian di hari itu, dari pada sampai malam tiba.

Berikut cuplikan hasil foto prewed yang membuat hati saya tersenyum riang.


Saturday, November 9, 2013

Foto Prewedding (Part 2)

Mengurus foto prewed ternyata tidak selamanya menyenangkan sebagaimana hasil fotonya yang indah dan menggembirakan. Malah bisa dibilang, mengurus foto prewed itu menghabiskan banyak waktu, tenaga, dan pikiran (selain tentunya biaya). Atau ini mungkin hanya terjadi pada saya dan pasangan ya? Hehe.

Jadi ceritanya, untuk konsep foto prewed saya sangat ingin dilakukan secara indoor dan outdoor. Tidak mau salah satunya saja, harus dua-duanya. Untuk sesi indoor, inginnya dilakukan dengan tema perpustakaan dan/atau cafe, sedangkan untuk sesi outdoor inginnya dilakukan dengan tema ilalang dan/atau night scene dengan kerlap kerlip lampu kendaaraan yang lalu lalang.

Hal paling sulit dilakukan untuk foto prewed adalah: mencari lokasi! Sebenarnya banyak lokasi yang bagus di seputaran Jakarta, tapi kebanyakan harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit. Hiks.

Ini adalah beberapa lokasi foto prewed di Jakarta dan sekitarnya (serta ada yang sedikit di luar Jakarta) yang sempat saya survey atau dapatkan infonya melalui telepon dan internet.

Ini adalah lokasi idaman saya untuk tema perpustakaan. Amat sangat ingin foto di sini, tapi sayang seribu sayang harus gagal karena masalah perizinan yang mendadak. Untuk foto di sini secara gratis, harus menjadi anggota perpustakaan selama lebih dari 6 bulan sebelumnya, tapi itu hanya bisa dilakukan di satu jam pertama jam buka perpus (09.00-10.00 untuk weekdays dan 10.00-11.00 untuk hari Sabtu), itu pun terbatas selama tidak mengganggu pengunjung lain. Untuk berfoto lebih leluasa bisa menggunakan di luar jam buka perpustakaan (07.00-09.00 untuk weekdays dan 07.00-10.00 untuk hari Sabtu), dikenakan charge sebesar 500 ribu rupiah dan harus izin pada manajemen gedung minimal seminggu sebelum pemotretan.

Foto oleh BPAD Jakarta

Tempat ini sering sekali dijadikan lokasi foto prewed. Kalau menurut fotografer saya sih, pencahayaan di Nannys itu "sempurna" sehingga foto yang dihasilkan di sini kemungkinan besar hasilnya bagus. Cocok untuk tema prewed yang colorful. Perizinan foto prewed di Nannys pun tergolong mudah. Tinggal telepon sehari sebelumnya di Nannys pilihanmu, lalu datang pada hari H dengan minimal order 500 ribu, bisa berfoto sepuasnya. Baiknya sih foto sebelum ramai, alias jangan di jam makan siang, karena Nannys tidak punya kuasa untuk menghalau pengunjung lain. Ohya, setiap Nannys di tempat yang berbeda memiliki konsep yang berbeda pula, misalnya Bathroom di Nannys Pacific Place, Sewing Room di Nannys Gandaria City, Terrace di Nannys Central Park, Playroom di Nannys Kota Kasablanka, dan masih banyak lainnya.

Foto oleh Chic Magazine

Kedai Kemang juga seringkali dijadikan lokasi foto prewed, saking seringnya sampai harus ijin minimal seminggu sebelumnya agar tidak bentrok dengan pasangan lain. Dalam sehari, Kedai Kemang hanya menerima 2 pasangan untuk foto prewed (satu pagi dan satu sore). Charge sebesar 250 ribu dalam bentuk minimum order seperti layaknya Nannys, sehingga bisa sekaligus dimanfaatkan untuk makan dan minum capeng dan crew fotografer. Saya juga tidak berhasil mengambil foto prewed di sini, lagi-lagi, karena masalah perizinan yang mendadak.

Taman Bunga Nusantara alias TBN bisa dibilang salah satu lokasi favorit capeng untuk melakukan foto prewed. Asalkan hari sedang cerah, mau berfoto dari pagi sampai taman tutup pun boleh. Dengan taman seluas ini, tema piknik sangat cocok dilangsungkan di tempat ini. Pengelola tempat ini pun sangat terbiasa dan terbuka untuk masalah foto prewed, walaupun lokasinya memang agak jauh dan terlihat sedikit menjenuhkan kalau seharian dihabiskan hanya dengan rumput dan bunga. Untuk foto prewed, charge yang dikenakan sebesar 500 ribu untuk weekdays dan 750 ribu untuk weekends. Bisa dibayar on the spot di bagian informasi.
Wuah, lokasi ini bikin jatuh cinta luar biasa saat melihat web-nya. Cantik banget! Interior dan pernak pernik di dalamnya sangat mendukung untuk foto prewed bertema vintage. Ada sedikit bagian tamannya juga, dari gambar yang disajikan sudah sangat menggoda hati nurani. Tapi keinginan berfoto di sini harus dikubur dalam-dalam, karena charge yang dikenakan amat sangat mahal, yakni 5 juta rupiah per 4 jam. Silahkan jika ada yang sanggup dan rela merogoh kocek demi lokasi secantik ini.


Foto dari Gallery Moje

Belum banyak yang tahu bahwa BSD punya lokasi yang lumayan bagus untuk dijadikan tempat foto prewed. Hutan Kota 2 BSD ini terbilang cukup besar dan bisa jadi pilihan. Saya sempat datang sendiri ke sana dan melihat beberapa pasangan sedang mengambil foto prewed. Sepertinya harus ijin pengelola untuk foto prewed, tapi saya tidak tahu persis charge-nya berapa, sepertinya tidak terlalu mahal. Sayangnya Hutan Kota ini kurang terawat, padahal bisa berpotensi besar.

Jembatan merah, salah satu spot di Hutan Kota 2 BSD

7) Universitas Indonesia
Ini adalah lokasi yang juga sekaligus adalah almamater saya dan pasangan sebagai lulusan kampus kuning tersebut. Kabarnya untuk foto prewed di UI tidak dikenakan charge, asal bisa memilih lokasi yang tidak terlalu mengganggu mahasiswa yang sedang beraktivitas (masa iya mau foto di depan kelas, hehe). Banyak lokasi tersembunyi di UI yang bisa jadi pilihan foto prewed: jembatan merah penghubung FIB dan FT, perpustakaan UI yang canggih itu, danau kenanga, sepanjang jalan menuju asrama, dan lain sebagainya.


Serta ada beberapa lokasi lain seperti berbagai macam kafe di seputaran Kemang, Epicentrum Walk, taman-taman yang tersebar di Jakarta seperti Taman Menteng, Taman Langsat, serta tempat tersohor lain seperti Pantai Indah Kapuk (bayar sekitar 500-750 ribu), Dufan (bayar tiket masuk saja asal pakaian masih "normal"), Ancol, dan juga daerah seputar Bundaran HI dengan prasyarat yang berbeda-beda. Untuk lokasi outdoor terkadang harus bayar (jika ketahuan satpam), namun banyak juga yang masih gratis. Untuk lokasi indoor, pada umumnya memang dikenakan charge.

Pertanyaannya adalah, relakah Anda merogoh kocek untuk berfoto di lokasi idaman? Semua tentu tergantung kemampuan dan kemauan masing-masing pasangan :)

Pada akhirnya, saya memilih 2 lokasi indoor dan 2 lokasi outdoor sebagai lokasi foto prewed. Dua berada di Jakarta dan 2 lainnya berada di Depok, seperti yang akan saya ceritakan di posting selanjutnya. Ciao!

Sunday, October 27, 2013

Foto Prewedding (Part 1)

Foto prewedding adalah salah satu hal yang lumrah dilakukan calon pengantin terutama beberapa tahun belakangan ini. Tema dan konsepnya pun bermacam-macam, mulai dari yang romantis, fun, casual, vintage, sampai hanya menangkap kemesraan pasangan sehari-hari. Anyway, foto prewed sebenarnya tidak wajib dilakukan dan masih banyak pula yang menentangnya, terutama karena sifatnya yang terlalu mengumbar kemesraan padahal pasangan tersebut belum resmi menikah.

Saya dan pasangan memutuskan akan melakukan foto prewed, sebenarnya lebih karena ingin memiliki kenang-kenangan. Sebenarnya kami berdua tidak terlalu suka difoto (bahkan foto berduaan yang kami miliki pun sangat sedikit). Tapi berhubung sekaligus mencari vendor foto untuk akad dan resepsi, jadilah kami sepakat untuk melakukan sesi foto prewed. Kapan lagi coba bisa bergaya ala model dengan fotografer profesional? Hehe.

Kami browsing ke beberapa vendor foto dan melakukan shortlisting, dengan persyaratan sebagai berikut:
(1) Harganya tidak terlalu mahal. Dicoretlah Axioo, Moreno, dan kawan-kawan selevelnya (iyalah)
(2) Bisa diambil satu paket mulai dari prewed, akad, resepsi. Dicoretlah Lightbrush (hiksss...) karena tidak menyediakan jasa foto prewed
(3) Enak diajak berkomunikasi dan tukar pikiran mengenai konsep, serta tidak kaku untuk bernegosiasi

Sebenarnya kandidat utama yang tadinya ingin kami ambil sebagai vendor foto Prewed (sekaligus akad dan resepsi) adalah yang satu ini (click!). Maaf ya nggak berani menyebut merk, hehe. Saya dan cami sukaaaa sekali dengan cara fotografernya (mas Irvan) mengambil gambar karena jelas, jernih, bisa menangkap moment yang tepat, dan gambarnya seolah bercerita. Tapi sayang sungguh disayang, harganya masih terlalu mahal untuk jangkauan kami, padahal sudah naksir berat. Ohya, satu lagi yang unik dari vendor satu ini adalah dia rajin mengupdate blog-nya dan kerap kali bercerita mengenai pasangan yang difotonya. Hihi.

Saya kemudian rajin meminta pricelist dari beberapa vendor foto, mulai dari yang harganya murah sampai lumayan berat. Ada yang harganya lumayan bersahabat seperti NewLife dan Kontiki, namun entah kenapa belum merasa sreg di hati.

Sampai suatu ketika saya sedang bertandang ke weddingku.com untuk mencari referensi, terdapatlah sebuah vendor fotografi yang mendapat pujian dari beberapa capeng di weddingku. Mampirlah saya ke website vendor tersebut, dan langsung suka. Selain itu, pricelist yang ada di website-nya juga sudah jelas, dan yang lebih pas lagi, terdapat paket spesial untuk prewed dan resepsi sekaligus. Yippie. Setelah kontak-kontakan dengan pemiliknya, dan menjelaskan mengenai pernikahan kami yang berbeda hari antara akad dan resepsi, rupanya hal tersebut bisa dibicarakan.

Habisnya, banyak vendor lain yang jatuhnya mahal karena akad dan resepsi yang jatuh pada hari berbeda.

Setelah itu, kami bertemu langsung dengan pemilik vendor, Mas Angga, dan dikirimkan invoice dengan keterangan paket yang didapatkan dan rincian harga. Pokoknya serba jelas.

Jadilah kami deal dan memilih vendor ini untuk menangani fotografi selama pernikahan, mulai dari prewed, akad, hingga resepsi. Mau tahu vendor apa yang kami pilih? Tunggu cerita selanjutnya :)

Tuesday, September 10, 2013

Lamaran: Done!

Alhamdulillah, salah satu tahapan dalam persiapan pernikahan akhirnya terlewati. Tepat pada tanggal 25 Agustus yang lalu keluarga calon suami secara resmi sudah melakukan proses lamaran ke keluarga saya. Walaupun pembicaraan pernikahan sudah dimulai jauh sebelum itu, tapi lamaran ini semacam "formalisasi" bahwa kedua keluarga sudah berniat baik untuk melangsungkan acara pernikahan.

Setiap keluarga dengan tradisi yang berbeda mungkin memiliki prosesi lamaran yang berbeda, demikian pula dengan keluarga saya. Pada intinya acara lamaran di keluarga kami adalah pertemuan antara dua keluarga, sehingga dilakukan dengan lumayan sederhana.

Kenapa saya bilang lumayan? Karena pada akhirnya Mama saya tetap menyiapkan tenda, menyewa kursi dan kipas angin, menyiapkan makanan dan mengundang beberapa saudara. Keluarga dari pihak calon suami saya ada sekitar 11 orang yang datang, sementara keluarga dari pihak saya kira-kira ada lebih dari 20 orang, ditambah dengan kehadiran beberapa tetangga dekat.

Semua vendor yang digunakan dan disewa untuk lamaran berasal dari tempat yang dekat, alias tetangga sekomplek juga. Tenda dan kursi sewa tetangga belakang komplek, catering pesan dari tempat kerja tetangga samping rumah, salon yang saya datangi juga adalah salon yang berada di dalam komplek. Pokoknya praktis!

Sebagai catatan, kebaya yang saya gunakan saat lamaran juga adalah kebaya stok lama kesayangan berwarna merah marun yang merupakan kebaya yang pernah saya gunakan saat menjadi penerima tamu sekitar 4 tahun yang lalu (masih muat, hihi).

Seserahan pada akhirnya tidak jadi diberikan saat lamaran, melainkan akan diberikan nanti sebelum akad nikah. Bawaan dari pihak keluarga pria pun diganti menjadi kue dan buah-buahan.

Tidak ada acara tukar cincin, diganti menjadi permintaan pacar saya yang meminta saya menjadi istrinya di depan keluarga secara lisan (maluuuu!).

Intinya, acara berlangsung secara kekeluargaan dan sederhana.

Terima kasih banyak untuk Mama yang meluangkan tenaga, waktu, dan biaya untuk mempersiapkan acara lamaran ini (peluk kecup). Sekarang, lanjut ke persiapan berikutnya!! Bismillah..

Vendor yang digunakan saat lamaran:
Catering: Tulip Catering
Tenda-Kursi-Kipas Angin: Fina Tenda
Salon: Arista Salon
Kebaya: Stok lama








Wednesday, August 7, 2013

Seserahan

Seserahan adalah salah satu hal yang menyenangkan untuk diurus bagi para calon pengantin wanita. Kapan lagi kita bisa belanja barang-barang kebutuhan dan dihias secara cantik serta tentunya dibayari oleh pihak laki-laki, hihi.

Tapi jangan salah, seserahan juga bisa membuat pusing tujuh keliling, terutama untuk wanita yang tidak suka belanja dan tidak tahu mau beli apa untuk barang-barang seserahan.

Menurut adat Jawa, jumlah kotak seserahan sebaiknya berjumlah ganjil, diisi barang kebutuhan dari ujung rambut sampai ujung kaki, dan merupakan barang-barang yang disukai atau biasa digunakan. Mengenai budget seserahan tentu tergantung kesepakatan. Kapan seserahan diberikan kepada pihak wanita juga berbeda-beda, untuk kasus saya rencananya seserahan akan diberikan pada saat lamaran (yang akan dilangsungkan sekitar 2 minggu lagi).

Saya dan cami agak lama mempersiapkan seserahan ini, malah bisa dibilang kami sudah menyiapkan budget dan list-nya dari awal persiapan pernikahan. Saya memberikan list kepada cami dan setelah beberapa kali revisi akhirnya disepakati. Kami mulai berbelanja secara menyicil selama kurang lebih 3 bulan. Tadinya menunggu moment Jakarta Great Sale di bulan Juni, tapi ternyata saya yang rewel urusan belanja ini tidak semudah itu mendapatkan barang yang dibutuhkan.

Berikut adalah daftar barang yang saya masukkan dalam seserahan beserta merk atau tempat membelinya.

KOTAK 1: PERLENGKAPAN IBADAH
- Al-Quran (beli di Gramedia)
- Tasbih (beli Gramedia)
- Mukena (beli di Pasar Cipadu)
- Sajadah (beli di Pasar Cipadu)

KOTAK 2: PERLENGKAPAN PESTA
- Tas Pesta (Debenhams)
- Sepatu Pesta (Yongki Komaladi)
- Kain Batik ( beli di Pasar Cipadu)
sebenarnya ingin menambahkan dress dan bahan kebaya, tapi tidak sempat terbeli (siapatau calon mertua nanti menambahkan)

KOTAK 3: PERLENGKAPAN KERJA
- Blouse (The Executive)
- Celana Panjang (The Executive)
- Dompet (Charles & Keith)
- Tas (Charles & Keith)
- Sepatu (Hush Puppies)
- Jam Tangan (Swatch)

KOTAK 4: TOILETTRIES
- Perawatan Rambut (L'oreal)
- Shower Gel, Body Lotion, Bedak, Body Mist (The Body Shop)
- Perfume (The Body Shop)
- Handuk (Terry Palmer)

KOTAK 5: MAKE UP
- Krim Perawatan Wajah (Pond's)
- Maskara (Maybelline)
- Lipstick (Revlon)
- Compact Powder (Revlon)
- BB Cream (Revlon)
- Eye Shadow (Revlon)
- Blush On (Oriflame)

KOTAK 6: UNDERGARMENT
- Lingerie (Wacoal)
- Panties and Bra (Sorella)
ini juga bingung mau nambahin apa lagi, inginnya ditaruh di kotak tertutup saja

KOTAK 7: BUAH DAN KUE
- Aneka buah dan kue, beli mendekati hari H saja

Dari rangkaian daftar seserahan tersebut, yang paling membutuhkan waktu lama untuk dibeli (karena plin plan dan segala macamnya) adalah KOTAK 2 dan KOTAK 3. Sekarang semua barang yang sudah dibeli telah saya serahkan pada calon mertua untuk dibungkus. Mudah-mudahan hasilnya cantik dan memuaskan, dan yang terpenting adalah semoga semua barang yang sudah dibeli bisa berguna nantinya :)

Sunday, July 7, 2013

Undangan: Abadi Card

Masih banyak persiapan yang harus dilakukan menjelang rencana pernikahan yang kira-kira 5 bulan lagi, namun Alhamdulillah hari ini salah satu checklist sudah bisa dicoret dari daftar, yakni: Undangan.

Ini memang agak di luar kewajaran berhubung acaranya masih lama tapi undangan sudah beres. Tapi tidak apalah, hitung-hitung menghapus satu hutang.

Mengenai undangan, ceritanya sebenarnya agak lucu. Undangan adalah salah satu hal yang paling ingin kami batasi budgetnya karena toh pada akhirnya undangan fisik yang disebar kepada para tamu akan berujung pada tempat sampah alias dibuang (umumnya demikian). Jadilah tadinya kami berencana membuat undangan seminimalis mungkin, kalau bisa bentuknya hanya berupa amplop dan kartu undangan tipis seperti pada umumnya undangan di luar Indonesia (semacam undangan pesta ulang tahun namun dalam ukuran lebih besar).

Saya sempat berencana membuat undangan minimalis serba putih atau off-white. Ternyata hasil googling lucu-lucu juga, apalagi kalau ditambahi pita atau renda.













Akan tetapi setelah bertanya sana sini, membuat undangan seperti gambar-gambar di atas harganya ternyata mahal juga, bahkan kalau menggunakan desainer undangan di dunia maya bisa menghabiskan dana Rp. 25.000/buah. Wow, mendingan sekalian bikin undangan full beludru. Budget undangan saya batasi maksimal Rp. 5.000/buah.

Jadilah akhirnya saya dan calon mertua berkunjung ke Pasar Tebet yang tersohor sebagai pusat undangan pernikahan. Dari sekian banyak kios undangan yang ada, entah kenapa -mungkin sudah jodoh namanya- kami berakhir pada vendor undangan bernama Abadi Card. Waktu itu saya hanya mampir ke dua kios, yakni T*uk* Card dan Abadi Card, dan harga di Abadi Card sedikit lebih murah dibandingkan yang pertama.

Setelah lihat-lihat contoh undangan yang tersedia, menawar sedikit, akhirnya saya mendapatkan model undangan yang di luar rencana baik dari segi warna maupun bentuk namun dengan budget sesuai keinginan (tidak lebih dari 5ribu rupiah per undangan). Proses berjalan cukup cepat, saya memesan undangan sebanyak 500 buah dan membayar DP sebesar Rp. 500.000. Setelah itu marketing dari Abadi Card menjanjikan akan mengirimkan draft undangan ke email saya untuk direvisi. Siangnya datang ke sana, malamnya draft undangan sudah dikirim. Cepat sekali kerjanya.

Setelah merevisi beberapa kesalahan dalam isinya dalam beberapa minggu sampai draft ketiga, juga beberapa kali drama apakah perlu memasukkan gelar akademis atau tidak ke dalam undangan (semua proses dilakukan via email), akhirnya pada pertengahan Juni undangan siap naik cetak. Untuk draft keempat alias terakhir, saya datang lagi ke Pasar Tebet untuk men-acc undangan sebelum naik cetak. Benar-benar harus diteliti dan pada akhirnya saya harus tanda tangan di setiap halaman yang telah saya setujui untuk naik cetak.

Tadinya saya ingin mengundur proses naik cetak berhubung acara pernikahan yang masih lama, tapi karena pemerintah menaikkan harga BBM dan menjelang bulan puasa juga, akhirnya undangan tetap dicetak lebih awal untuk menghindari kenaikan harga bahan baku (walaupun sudah deal harga, tapi kasihan juga kalau sampai mereka menanggung rugi).

Saat acc naik cetak undangan, marketing dari Abadi Card menjanjikan undangan siap diambil dalam waktu 2 minggu. Wah, cepat sekali, saya sampai meyakinkan mereka untuk tidak usah cepat-cepat membuatnya asalkan hasilnya bagus dan sesuai permintaan.

Kira-kira 2-3 minggu kemudian, Voila! Undangan sudah jadi dan siap diambil.

Undangan yang saya pesan dalam warna coklat-gold dihiasi pita keemasan tersebut sudah ada dalam genggaman dan kurang lebih memenuhi setiap request yang saya berikan. Abadi Card juga memberikan bonus kartu ucapan terima kasih yang bisa digunakan untuk souvenir.



  





Saya belum cek satu-satu apakah ada produk yang cacat atau tidak, tapi saya sangat suka dengan detail ukiran dan emboss gold untuk tulisannya (update: ternyata ada beberapa yang cacat). Memang modelnya agak pasaran karena saya mengikuti contoh yang sudah ada di toko, namun saya jatuh cinta dengan warnanya. Berdasarkan kecepatan kerja, kemampuan menampung request pelanggan yang agak cerewet dan teliti seperti saya, juga beberapa kali perubahan isi karena plin-plan, serta respon mereka yang cepat tanggap menjawab setiap SMS dan email bisa dibilang saya cukup puas. Ohya, satu lagi, Abadi Card ini punya komputer sendiri di dalam tokonya, jadi pas acc terakhir kita bisa langsung lihat perbaikan undangan di layarnya. Update: hanya saja kekurangannya adalah tidak ada pelayanan paska cetak, alias kalau mau complain setelah naik cetak tidak akan ditanggapi, saya sarankan untuk memeriksa seteliti mungkin sebelum membawa pulang undangan dan ucapan terima kasih.

Sekarang undangan yang ada di rumah harus saya simpan dulu sebelum dibagikan ke daftar undangan. Terima kasih, Abadi Card! Semoga nanti rumah tangga kami seabadi nama vendor undangannya, Amin..

Abadi Card
Pasar Tebet Barat
Lantai Basemen, Tebet, Jakarta Selatan
Telepon: 021 8378 0223

Friday, June 14, 2013

Test Food: Alfabet Catering

Alkisah, setelah menentukan bahwa gedung untuk acara resepsi adalah di Patra Jasa saya mendapatkan kabar dari Camer untuk melakukan Test Food (TF) catering. Catering tentu adalah salah satu hal paling penting dalam resepsi pernikahan, memakan budget paling besar dan tentunya paling diperhatikan oleh para tamu.

Sebelum tahu akan TF catering yang mana, sebenarnya dulu saya punya bayangan di kepala bahwa akan menggunakan Puspita Sawargi untuk acara resepsi. Hal ini karena saya pernah datang di acara resepsi pernikahan sahabat saya yang menggunakan Puspita Sawargi dan rasa makanannya terbilang enak dibandingkan acara resepsi lain yang pernah saya hadiri, sehingga kesan baik itu terus tertanam di kepala.

Nama-nama catering lain yang sering saya dengar memiliki reputasi bagus di antaranya adalah Puspa, Dwi Tunggal Citra, Caterindo, Akasya (yang satu ini levelnya agak beda sih).

Sehari sebelum TF saya baru tahu bahwa catering yang akan digunakan pada saat resepsi adalah Alfabet Catering, TF ini hanya untuk memantapkan menu apa yang kira-kira akan dipilih. Bahkan DP untuk Alfabet sudah dibayar.

Terus terang saya belum pernah merasakan atau survey mengenai Alfabet sebelumnya, tapi hasil googling sekilas menyebutkan bahwa reputasi Alfabet sangat baik dan memiliki banyak review positif. Jadi ya sudah, saya ikut saja keinginan sang Camer.

TF dilakukan bersamaan dengan adanya event pernikahan di Patra Jasa pada hari Sabtu siang (jadi ceritanya bisa sekaligus survey gedung). Saat saya datang, acara sudah dimulai, jadi agak tidak enak untuk masuk. Untungnya kami sudah janjian dengan bagian marketing Alfabet yang bertugas pada hari itu, jadilah kami diajak berkeliling sekaligus melihat peletakan gubukan dan pengaturan makanan di gedung. Agak tidak enak sebenarnya, karena saya dan Camer hanya menggunakan jeans dan baju biasa, sehingga agak menarik perhatian tetamu yang datang. Tidak mau mengganggu, kami pun melipir ke dekat dapur dan ngobrol-ngobrol dengan pihak Alfabet di sana (maaf banget saya lupa siapa nama mbak-mbak baik hati yang menemani kami saat itu).

Karena tidak enak hati untuk berkeliling, kami hanya mencoba Mie Jawa dan Jus Jambu yang sengaja dibawakan salah seorang pelayan. Rasanya cukup enak, tapi saya tidak bisa berkomentar banyak karena terus terang agak tidak konsen. Dari hasil obrolan kami dengan pihak Alfabet, saya baru tahu bahwa Alfabet memang hanya fokus untuk menangani catering alias tidak bersistem paketan dengan dekorasi dan sebagainya, mungkin untuk menjamin kualitas makanan.

Sesaat sebelum pulang, saya dan camer masing-masing dibawakan satu tas besar berisikan makanan dari Alfabet. Tadinya saya pikir yang dibawakan hanya menu makanan yang disajikan bertepatan dengan pesta siang itu, tapi setelah tiba di rumah ternyata di dalam tas besar tersebut ada 4 box besar makanan dengan beragam menu di dalamnya. Wow, Alfabet mungkin satu-satunya (setahu saya) catering yang membawakan client-nya makanan untuk dibawa pulang sebagai salah satu bentuk TF. Ada baiknya juga supaya client tidak makan di tempat acara dengan kondisi terburu-buru dan mungkin tidak bisa menampung rasa semua menu.

Dari 4 box makanan yang dibawa pulang, ini review beberapa menu di antaranya (PS: makanan tersebut baru sanggup dihabiskan oleh saya dan keluarga dalam waktu 4 hari):
  1. Rib Steak --- enak banget, top markotop, maknyus, pokoknya dari semua makanan di dalam box Alfabet ini adalah favorit nomor satu saya. Dagingnya empuk, bumbunya meresap, nikmat!
  2. Udang BBQ --- enak, bumbunya meresap, udangnya besar-besar
  3. Pempek --- sebagai seorang berdarah setengah Palembang, saya tidak bisa bilang ini pempek terenak yang pernah saya makan. Tapi lumayanlah, tidak mengecewakan
  4. Lasagna --- ini favorit Mama saya, rasanya enak, dagingnya banyak. Biasanya saya selalu eneg tiap makan lasagna, tapi tidak dengan lasagna Alfabet ini
  5. Kare Sapi --- enakkk, daging sapinya empuk dan bumbunya pas
  6. Korean BBQ --- ini juga enak, sepertinya semua menu daging yang disajikan Alfabet enakkk
  7. Spaghetti Tuna -- tidak seenak Lasagna, tapi lumayan juga. Tunanya sepertinya kurang banyak
  8. Ayam Cabe Rawit --- saya tidak sempat coba, tapi menurut laporan Mama lagi-lagi ini juga enak dan pedasnya pas
  9. Sate Manten --- baru dengar varian sate ini. Unik karena tidak seperti sate lainnya, tusukan satenya ada dua. Rasanya enak, bahkan sebelum diberi bumbu kecapnya saja sudah enak
  10. Bebek Hainan --- sukaaa, enak dan bumbunya pas banget
  11. Lumpia Udang --- lumpianya sebenarnya biasa, tapi saos mayonesnya luarrrr biasaaa. Top!
  12. Dimsum --- ini juga salah satu favorit saya, sebagai pecinta dimsum bisa saya bilang dimsum Alfabet ini enak sekali
  13. Aneka Gorengan --- hmmm, tidak perlu dikomentari sepertinya, enak kok
  14. Siomay --- tidak terlalu istimewa, tapi juga tidak mengecewakan
  15. Mie Hainan ---- tidak sempat coba, tapi dari penampakannya cukup menggoda
  16. Serta beberapa menu lain yang tidak diberi label dan/atau tidak sempat saya cicipi.






Kesimpulan dari TF Alfabet Catering adalah saya dan keluarga puas dengan semua menunya. Selain itu pendekatan Alfabet Catering dengan memberikan box makanan untuk dibawa pulang dan dicoba di rumah ini sangat luar biasa menurut saya. Belum apa-apa saya sudah jatuh cinta dan tidak sabar melihat performa mereka di acara nanti. Katanya sih Alfabet Catering ini a little bit pricey, tapi sepertinya sebanding dengan rasa dan service-nya.

Kalau boleh memilih, saya akan memasukkan Rib Steak, Lasagna, Udang BBQ, Dimsum, Sate Manten, Kare Sapi, dan Bebek Hainan ke dalam menu. Tapi sepertinya terlalu banyak daging-dagingan, lagipula menu akan ditentukan oleh Camer. Apapun menunya nanti, semoga semua berjalan dengan lancar dan penampilan Alfabet catering tidak mengecewakan ya. Amin!

Alamat Alfabet Catering
PT. Alfabet Cahaya Dunia
Jl. Minangkabau No. 24, Jakarta 12970
Telp: (021) 829 4465, 831 3634
Hp: 0812 100 5086, 0812 1061 728
Email: alfabetcahayadunia@gmail.com

Saturday, June 1, 2013

Fast Forward

Setelah kurang lebih 3 bulan mencari gedung tempat resepsi, penuh peluh dan lelah, memakan banyak waktu dan tenaga, serta tentunya biaya, akhirnya kami mendapatkan juga tempat yang dinanti-nanti.

Lalu apakah tempat resepsi kami berasal dari salah satu tempat yang pernah kami survey sebelumnya? Jawabannya: TIDAK.

Jadi asal muasal penemuan tempat ini adalah berita baik bahwa cami diterima di tempat kerja yang baru dan lebih baik dari sebelumnya, namun pekerjaan barunya ini mengharuskan cami untuk menetap di Kalimantan selama 3 bulan ke depan. Whaatt??? Bagaimana dengan persiapan pernikahan dan sebagainya. Sempat panik, kami sempat survey ke gedung lain sebelum cami berangkat, namun tidak membuahkan hasil.

Setelah sempat meratapi nasib ditinggal cami yang akhirnya berangkat juga ke Kalimantan, akhirnya calon mertua (camer) mencoba mengambil alih urusan gedung. Dan.... eng ing eng.... tidak ada seminggu saja setelah urusan gedung diambil alih, mereka bisa menemukan gedung di daerah Gatot Soebroto, plus catering, plus dekorasi, plus rias pengantin, plus fotografi, plus entertainment, plus undangan pula.

Saya sebagai calon pengantin merasa gagal, karena ternyata camer lebih handal dalam mengurus pernikahan ketimbang yang mau menikah. Tapi sebenarnya merasa terbantu juga, walaupun tentu harus merelakan rencana dan bayangan di dalam kepala mengenai konsep pernikahan buyar di tengah jalan.

Lalu dimana dan siapa para vendor terpilih tersebut? Ini dia jawabannya...

Gedung: Gedung Patra Jasa, Gatot Soebroto
Rias Pengantin: Miarosa
Catering: Alfabet
Fotografi: Lightbrush (belum fixed)
Dekorasi: Aura Decoration (belum fixed)
Entertainment: Revi's Entertainment
Kartu Undangan: Abadi Card, Pasar Tebet

Rencana selanjutnya adalah melakukan survey dan review awal terhadap para vendor tersebut (karena vendor tersebut dipilih sebagian besar tanpa sepengetahuan saya), sekaligus menyelesaikan urusan seserahan, lamaran, dan akad nikah yang akan dilakukan secara terpisah.

Sudah 6 bulan lagi menuju hari H. Semangat!!!!

Thursday, May 30, 2013

Hunting Venue: Graha Nandhika Sucofindo

Sampai dengan H minus 7 bulan, gedung resepsi belum dapat juga yang cocok. Akhirnya saya dan cami memutuskan untuk survey ke satu gedung lagi yang masih dikelola oleh BRP, yakni Gedung Sucofindo, tepatnya di aula Graha Nandhika Sucofindo. Inilah hasil survey kami

Graha Nandhika Sucofindo
Alamat: Jl. Raya Pasar Minggu Kav. 34, Jakarta 12780
Telepon: (021) 791 88 274

Kelebihan: Saya pernah beberapa kali melewati Jalan Raya Pasar Minggu, tapi baru kali ini menyadari keberadaan Sucofindo. Kelebihan pertama yang saya lihat dari gedung ini adalah halaman parkirnya yang luas, pastinya cukup untuk menampung kendaraan para tamu. Walaupun dari luar terlihat kecil, namun ternyata Graha Nandhika yang terletak di lantai 2 Gedung Sucofindo ukurannya cukup besar. Pelaminannya luas dan kokoh, lalu ada satu lampu kristal besar yang mentereng di dekat pelaminan. Ceiling dekat pelaminan sangat tinggi. Salah satu bagian unik dari Graha Nandika Sucofindo adalah keberadaan kursi-kursi di bagian atas dekat pelaminan seperti layaknya kursi auditorium atau teater. Walaupun mungkin tidak terlalu berguna pada saat acara, tapi lucu saja melihatnya. Ruang VIP juga terpisahkan sendiri dan terkesan eksklusif, jadi buat para orang tua dan sanak saudara bisa makan dengan tenang. Ada satu bagian lagi di sayap sebelah kanan yang sepertinya cocok untuk dijadikan tempat gubukan. Bisa dibilang Graha Nandhika ini cocok untuk acara pernikahan dengan tamu lebih dari 1000 orang. Masih dikelola oleh BRP, harga per paket lebih murah dibanding 2 gedung BRP yang lain, yakni mulai dari Rp. 90.900.000 untuk pernikahan tradisional paket lengkap untuk 500 orang.

Kekurangan: Bagi saya dan cami, kekurangan utama dari Graha Nandhika adalah lokasinya. Walaupun tidak begitu jauh dari Gedung SMESCO yang sempat menjadi incaran kami sebelumnya, tapi karena sudah masuk ke Jalan Raya Pasar Minggu maka jalanan di depan Gedung Sucofindo ini terbilang macet. Kekurangan lainnya, walaupun mungkin bisa jadi kelebihan juga bagi orang yang suka, adalah ruangan di aula Graha Nandhika terkesan "terpisah-pisah", yakni mereka yang berada di ruang VIP dan ruang sayap kanan totally tidak bisa melihat pelaminan pada saat acara berlangsung. Selain itu, meskipun bersih tapi Graha Nandhika ini terlihat agak tua dan kurang kinclong, terutama karpet merahnya yang sudah agak kusam. Entah kenapa, setelah berkeliling, saya merasa kurang sreg dengan venue ini.

Kesimpulan: Tidak mengambil tempat ini karena kurang sreg dan didukung pula dengan keluarga cami yang tidak suka dengan lokasinya. Tapi tempat ini dijadikan cadangan kalau sampai batas waktu yang ditentukan tidak mendapatkan venue resepsi yang lebih oke.

Bagian depan Gedung Sucofindo

Parkiran luas

Bagian depan aula Graha Nandhika Sucofindo

Menuju aula resepsi

View ke arah pelaminan, tempatnya luas

View ke arah pelaminan

Ruang VIP

Bagian dalam ruang VIP

Lampu kristal dan ceiling tinggi, dekat pelaminan 

View dari pelaminan, lihat bagian atasnya yang seperti bangku teater

Sayap kanan yang cocok untuk tempat gubukan

Sayap kanan, pintu itu menuju aula utama tempat resepsi